main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
UPDATES///
main Slider

Jangan Sampai Busi Tidak Dikencangkan dengan Pas Inilah Akibatnya

TRIBUNKALTIM.CO  -  Busi  merupakan komponen penting dalam sistem perapian pada motor. Pada umumnya, busi berfungsi agar kendaraan bermotor bisa menyala. Oleh karena itu, sudah seharusnya saat memasang busi harus dikencangkan dengan baik dan benar. Lantas, bagaimana jika saat pasang busi tidak dikencangkan dengan pas? Ternyata faktanya, pasang busi kurang kencang ini bisa bikin mesin bermasalah loh. Hal ini disampaikan oleh Technical Support Product Knowledge, PT NGK  Busi  Indonesia, Diko Oktaviano kepada GridOto.com. "Saat busi tidak dikencangkan dengan baik maka saat mesin dihidupkan, maka  tekanan kompresi  bisa bikin busi terdorong keluar," buka Diko. "Siklus  pembakaran  yang terus-menerus akan membuat  drat  busi lama kelamaan akan rusak," tambahnya. Sebagaimana kita ketahui,  tekanan kompresi   mobil  modern saat ini sangat besar. Selain  drat  busi yang rusak, jika busi copot maka proses  pembakaran  akan gagal. "Memang ini jarang terjadi karena cop busi dengan koil yang sudah menjadi satu dan dikencangkan dengan baut," bebernya. Namun, tetap saja sangat tidak disarankan busi kendur di dalam mesin. "Akan lebih baik jika menggunakan kunci torsi dengan ukuran 30-35 Nm," jelas pria yang berkantor di Jl. Raya Bogor, Jakarta Timur. Kalau tidak ada kunci torsi, bisa pakai trik ini. "Saat busi dirasa sudah kencang, putar sedikit lagi sekitar 30 derajat," tutup Diko.   Sumber : https://kaltim.tribunnews.com/2022/01/03/jangan-sampai-busi-tidak-dikencangkan-dengan-pas-inilah-akibatnya?page=all

main Slider

Perkara Ukuran Busi dan Salah Paham Relevansinya dengan Performa Mesin

OTOSIA.COM  - Busi itu seperti pemantik 'keributan'. Ya, keributan berupa pembakaran di dalam silinder. Sekali api terpercik dari kepala busi, maka bergeraklah seluruh komponen mesin hingga sebuah kendaraan bisa dijalankan. Tanpa busi, 'keributan' tidak akan muncul, sama juga pembakaran nihil. Dalam sejarahnya, busi telah banyak berubah. Ada yang dulunya gendut dan pendek, sekarang cungkring dan panjang. Malah ada juga busi mungil dan pendek, tergantung di mana peruntukannya. Dari situlah banyak asumsi dan anggapan kalau busi besar dan panjang sebenarnya akan bikin performa  engine  lebih nendang, karena daya tahannya dianggap jauh lebih lama. Apa benar cukup diartikan sesederhana begitu? Kalau berkaca dari teknologi kelas wahid yang ditanam pada  engine  mobil Formula One (F1), salah paham soal ukuran busi itu mungkin bisa sedikit dibelokkan. Merunut penjelasan formula1-dictionary, mobil-mobil yang berlaga di ajang F1 tahun 1990 silam memakai busi dengan panjang yang hampir sama dengan kendaraan komersial, namun punya diameter separuhnya. Atau kalau dirinci berkisar 85 milimeter untuk panjang dan diameternya antara 7,5-10 milimeter. Setelah itu busi F1 justru semakin menyusut seiring waktu, berdampingan dengan arus teknologi mobil balap. Bahkan hanya menyisakan panjang 35 milimeter dan diameter 7,6 militer, kira-kira seukuran jari kelingking orang dewasa. Lalu apa untungnya dengan busi yang kecil ini? Faktanya, busi tipe lama yang terlalu besar, menurut engineer F1, justru terlalu berat bila dibandingkan  part  lain seukurannya; padahal beratnya saat itu cuma 25,9 gram. Keuntungan busi kecil yang tinggal 10,7 gram membuat kustomisasi  cylinder head  lebih fleksibel, kalau perlu dibikin jauh lebih mungil, sekecil mungkin. Pemangkasan ruang untuk busi pun ternyata bikin aplikasi  valve  (katup) makin efisien untuk menyesuaikan  air flow  guna memaksimalkan potensi semburan power. Nah, masalahnya, bukankah panas dan daya tekan di dalam ruang bakar luar biasa ekstrem, apalagi untuk mobil balap F1 dengan mesin 1.6 liter V6 bertenaga nyaris 1.000 hp? Memangnya busi yang ukurannya jauh lebih kecil bisa bertahan? Level Ketahanan Busi Soal ini Diko Oktoviano, Technical Support NGK Busi Indonesia menjelaskan. Ukuran, dimensi atau berat busi sejatinya tidak berpengaruh terhadap performa. Begitu juga sebaliknya. Ada peran dari banyak sisi yang membentuk ketahanan, bila dikaitkan dengan seberapa kuat busi mengantisipasi siksaan dalam ruang bakar. "Kecil atau besar dimensi busi enggak ngaruh ke  performance , sebab untuk urusan ketahan suhu  extreme , ruang bakar yang semakin padet dan lainnya diakalin pake bentuk dan material yang di sederhanain," ujar Diko. Gambaran sederhananya busi berkembang berdasar pola yang dibutuhkan oleh mesin, mau yang besar, panjang, berkepala banyak atau materialnya paling solid sekalipun. "Busi udah banyak transformasi dari segi dimensi, dimulai dari generai kepala banyak, bentuk yang besar dan bahkan sampai dengan ke penggunaan bahan material lainya," kata Diko sambil memberikan contoh teknologi mesin yang memengaruhi produksi busi. Tak perlu jauh-jauh membandingkan dengan dunia balap F1, menurut Diko, pernak-pernik perubahan busi termasuk dimensi itu sebenarnya bisa dilihat di Indonesia. Contohnya saja busi motor 2-tak. Motor dengan ciri khas suara knalpot "trententeng" itu masih menggunakan busi berukuran besar, tapi pendek. Manakala zaman berubah, motor 4-tak menggeser pilihan dengan alasan emisi gas buang dan sebagainya, busi kini jadi kurus, kecil dan panjang. Ya begitulah, kita sedang berselancar dengan tren teknologi mesin kendaraan serta berbagai hal yang melingkupinya. "Rata-rata perubahan ini mengikuti tren teknologi yang menuntut kenaikan efisiensi pembakaran yang akhirnya mengorbankan dari sisi design mesin yang mengecil," imbuhnya. Singkat cerita mengapa busi generasi lama berbentuk tambun, karena memang teknologi yang dipakai tidak se- advance  sekarang, jauh lebih sederhana. Versi mesin terkini lebih kompleks dengan  intake  yang dibuka lebar-lebar, ruang bakar lebih padat, diikuti kubikasi lebih besar. Tapi proses  cooling  makin efisien. Dari situ busi ikut menciut dan hemat tempat, namun sama sekali tidak menurunkan kinerjanya sebagai si pemantik 'keributan'. Variannya juga kian banyak, bisa dipilih presisi sesuai aturan standar motor, atau mau busi spesial untuk kebutuhan khusus. Misalnya saja untuk merek busi yang sering disebut saat servis di bengkel, yakni NGK. Brand yang eksis sejak 1936 ini sudah padat pengalaman urusan menyediakan busi tunggangan, bahkan banyak menorehkan prestasi di berbagai ajang seperti World Rally Championship (WRC), MotoGP, hingga F1. Sekilas informasi saja, NGK pertama kali terjun ke F1 tahun 1964 silam dengan mendukung tim Honda dan berhasil memenangkan balapan pertamanya satu tahun kemudian. NGK juga pernah menjadi official technical partner dengan tim Scuderia Ferrari. Kalau untuk pasar lokal, NGK menyediakan beragam varian. Rinciannya sebagai berikut: 1. NGK G-Power: untuk  upgrade  busi dengan nilai ekonomis tapi performanya lebih tinggi dari busi standar bawaan. 2. NGK Iridium IX: cocok untuk meningkatkan performa kendaraan tapi fokus memaksimalkan pengapian. 3. NGK Laser Series: mengutamakan durabilitas atau ketahanan busi, sehingga busi dijamin lebih awet dan pas untuk harian. 4. NGK MotoDX: rekomendasi buat rider yang doyan turing dan mereka yang dalam tahap awal ingin naik ke racing. 5. NGK Racing Competition: khusus untuk  professional racer  atau kendaraan yang sudah dimodifikasi total layaknya spesifikasi sirkuit. Yang tidak kalah penting dan perlu disadari dari mempertimbangkan busi juga memperhitungkan kesesuaian spesifikasi dengan kendarannya. Salah pilih kode saja bisa bikin celaka! Pernak-pernik Salah Paham Pilih Busi Selain mengikuti tren busi dan juga dinamika teknologi mesin, jangan lupa setiap kendaraan memiliki busi dengan kriterianya masing-masing. Salah paham memilih dan memasang busi berpotensi bikin mesin ambyar dan keluar kocek jutaan. Contohnya, Yamaha Mio injeksi seharusnya menggunakan busi pendek dengan kode NGK CR6HSA. Kode busi ini juga bisa dipakai untuk Yamaha Fino, X-Ride, Freego 125, Vega Force dan Jupiter Z1. Menurut Diko, dalam banyak kasus, mesin busi pendek (NGK CR6HSA) justru salah dipasang dengan tipe busi panjang (CPR6EA-9). Harusnya, tipe busi panjang biasanya untuk motor bebek atau cub. Kalau dipaksakan, maka bagian elektroda busi terlalu menonjol ke dalam ruang bakar. "Efeknya akan terjadi benturan. Si piston akan bergerak menabrak kepala busi. Selain itu ada klep atau valve bergerak, dia akan mengahjar ujung elektroda kepala busi juga, maka akan patah dan pembakaran tidak maksimal," ungkapnya. Diko melanjutkan, busi juga akan menghantam bagian lain di mesin. Efeknya adalah  overhaul engine .  Lha , malah keluar uang banyak kan? "Jika begini, maka mesin harus dibongkar total, istilah bengkelnya turun mesin. Akhirnya banyak komponen yang harus diganti dan bisa menguras kantong jutaan gara-gara busi yang harganya hanya belasan ribu," tukasnya. "Sebaliknya, mesin dengan busi panjang dipakaikan busi pendek. Yang terjadi kepala busi akan masuk ke dalam area silinder tidak menghantam piston karena jarak bebas, tapi pembakaran tidak terjadi diruang bakar," tambahnya menjelaskan lagi. Namun demikian bukan serta merta berarti semua motor injeksi menggunakan tipe busi pendek, tergantung spesifikasi yang sudah disesuikan oleh pabrikan motor. Kasus lainnya bila memasang busi skutik untuk motor kopling. Pada dasarnya busi tidak bisa dibedakan dari jenis transmisinya, namun persoalan langkah, kubikasi dan juga teknologi. "Biasanya untuk cc macam  motor sport  busi lebih ramping buat maksimalkan pendinginan sekaligus membesarkan kubikasi," jelasnya, seraya menyatakan bukan berarti busi motor matic lebih 'gemuk'. Kesimpulannya, berrarti, relevansi performa mesin bukan soal memilih busi besar dan panjang, tapi cenderung bagaimana busi memenuhi kebutuhan, sesuai spesifikasi kendaraan dan sejauh mana teknologi berkembang. Tujuannya pasti kembali lagi pada satu titik untuk mempermudah pengguna kendaraan.   Sumber : https://www.otosia.com/berita/perkara-ukuran-busi-dan-salah-paham-relevansinya-dengan-performa-mesin.html

main Slider

Bos Baru NGK Busi Indonesia Hadir di Yamaha Endurance Festival Tetap Support Balap

BalapMotor.Net –  Bos baru NGK Busi Indonesia Atsuhi Aoki hadir langsung dalam gelaran Yamaha Endurance Festival (YEF) 2021 yang berlangsung di sirkuit Sentul Internasional, Bogor pada 18-19 Desember. Atsuhi Aoki yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT.NGK Indonesia ini cukup antusias menyaksikan langsung gelaran balap yang diikuti oleh para peserta dari komunitas sampai profesional tersebut. Perlu diketahui juga bahwa Atsuhi Aoki sendiri mulai menjabat sebagai Presiden Direktur PT NGK Busi Indonesia pada bulan Maret 2021 menggantikan posisi Hisato Kato yang sudah menjabat sejak 2016. Sebagai busi nomor 1 di dunia, lalu apakah ditangan Atsuhi Aoki NGK Busi Indonesia juga bakal meneruskan kiprah NGK Busi mensupport dunia balap di tanah air? Ternyata Atsuhi Aoki yang sebelumnya juga pernah memegang NGK Thailand ini mengatakan bahwa semua tergantung kondisi. Atsuhi Aoki, presdir NGK Busi Indonesia saat penyerahan podium di Yamaha Endurance Festival 2021. “Untuk hal tersebut, kita masih akan terus melihat situasi dan kondisi dari penjualan kita. Apalagi saat ini masa pandemi masih belum berakhir,” ungkap Atsuhi Aoki. “Tetapi kita pasti masih akan terus berkontribusi pada dunia balap di Indonesia,” tambah Atsuhi Aoki yang menganggap bahwa market di Indonesia cukup unik ini.Perlu diketahui juga bahwa NGK Busi Indonesia sendiri menjadi salah satu sponsor dalam beberapa event serta tim balap baik roda dua maupun roda empat.   Sumber : https://balapmotor.net/nasional/bos-baru-ngk-busi-indonesia-hadir-di-yamaha-endurance-festival-tetap-support-balap

main Slider

Beli Busi Iridium Tapi Tak Ada Ciri Khas Ini Dipastikan Palsu

Otomotifnet.com  - Harap berhati-hati jika ingin belanja  busi iridium . Jangan sampai dibohongi toko spare part karena ketidaktahuan tentang busi iridium. Sebab, busi iridium memiliki ciri khas yang tak ada di busi jenis lain. Jadi jika ciri khas berikut ini tak ada, dipastikan itu busi iridium palsu. Ciri khas utama busi iridium pada bentuk elektroda yang meruncing. ryan/gridoto.com elektroda inti bahan iridium   "Busi iridium dipastikan punya elektroda pusat yang berbentuk runcing seperti jarum," tegas Diko Oktaviano, Technical Support Product Knowledge PT NGK Busi Indonesia. "Kalau ada yang bilang busi iridium tapi bentuk ujung elektroda pusat melebar atau membulat sudah pasti bukan iridium," ungkapnya. Mengapa bisa begitu? Ujung elektroda pusat yang runcing sudah dirancang produsen karena kekuatan dari material logam mulia iridum. Karena fungsi busi iridium adalah memaksimalkan pembakaran dengan memfokuskan titik api busi dari bentuk elektroda pusat yang dibuat runcing. "Logam mulia iridium bisa menjaga konstruksi elektroda pusat dari titik api terfokus dengan suhu panas tinggi," jelas Diko. "Kalau busi biasa atau  busi nikel  tidak bisa elektroda pusatnya dibuat runcing," terusnya. Sebab menurut Diko, ketahanan panas dan korosinya jauh lebih rendah meski dibuat runcing akan cepat patah.   Ryan/GridOto.com Elektroda busi iridium  (kiri) runcing dan busi nikel (kanan) melebar biasa   Untuk itulah busi nikel umumnya memiliki elektroda pusat berbentuk lebar atau membulat. Tujuannya untuk mendukung kekuatan konstruksi elektroda saat menghasilkan titik api.   Sumber : https://otomotifnet.gridoto.com/read/233045313/beli-busi-iridium-tapi-tak-ada-ciri-khas-ini-dipastikan-palsu?page=all

main Slider

Busi Mobil Banyak Kerak Akali Pakai Ini Jangan Aneh-aneh

Jip.co.id  - Ketika melakukan servis rutin yang meliputi penggantian oli mesin, pengecekan filter udara,  busi , air radiator dan sebagainya, kerap dijumpai kondisi busi terlihat mulai ditumpuki kotoran atau karbon pada bagian elektrodanya. Dalam kondisi seperti itu, tentu jika busi langsung dipasang lagi akan berisiko membuat pengapian jadi tidak maksimal. Karena elektorda busi yang terbungkus atau mengalami carbon fouling, membuat loncatan listrik jadi kurang optimal. “Busi yang sudah ditumpuki deposit, kinerjanya pasti akan menurun,” bilang Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia. Nah yang jadi masalah, kita tidak dasarankan untuk membersihkan busi menggunakan benda-benda yang bisa membuat material elektrodanya jadi rusak, seperti sikat kawat dan amplas. “Kalau hanya kotor saja, boleh disikat, tapi cukup pakai sikat gigi,” ujar Diko lagi. Sebab jika elektroda busi sampai terkikis akibat menggunakan benda keras atau amplas tadi, akan mempengaruhi kinerja busi dalam menghasilkan percikan listrik untuk proses pembakaran di ruang bakar. Lantas bagaiamana bila deposit pada elektroda busi tidak bisa dibersihkan menggunakan sikat gigi? “Celupin saja businya ke dalam cairan carbon cleaner, lalu tunggu beberapa menit sampai karbonnya rontok, kemudian seka pakai kain,” bilang Hendra Tjoa, Direktur PT Trioline Agung Perkasa, distributor chemical perawatan mesin merek Bluchem asal Jerman. Tapi, lanjut Hendra, sebaiknya gunakan carbon cleaner yang tidak bersifat korosif terhadap material logam.  Dari pengalamanya, cara ini membuat busi yang masih belum lama pakai, bisa terlihat bersih lagi kayak baru, tanpa merusak busi itu sendiri. Bahkan untuk kerak yang membandel pun bisa rontok oleh cairan yang kerap digunakan untuk gurah mesin tersebut, seperti yang sering dibuktikan oleh tim kanal Youtube Otoproduk.  Namun bila keraknya susah dibersihkan, bisa berarti umur pakai busi sudah terlalu lama. “Deposit atau kerak ini bisa menyatu dengan logam kalau sudah terlalu lama digunakan, sebaiknya ganti busi baru,” saran Diko.   Sumber : https://jip.gridoto.com/read/263043393/busi-mobil-banyak-kerak-akali-pakai-ini-jangan-aneh-aneh?page=all

main Slider

Alasan Banyak Mobil Sekarang Pakai Busi Iridium

JAKARTA, KOMPAS.com - Material yang digunakan pada busi bermacam-macam dan salah satunya adalah iridium. Busi dengan material tersebut yang sekarang ini digunakan pada banyak mobil. Busi merupakan salah satu komponen pada mesin yang ada di ruang bakar. Fungsinya cukup vital, karena menjadi pemantik api agar mesin bisa hidup. Selain itu, busi berhubungan juga dengan performa mesin dan lainnya. Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia, mengatakan, alasan banyak kendaraan beralih ke iridium adalah demi menyesuaikan regulasi Euro. "Makanya, banyak pabrikan yang saat ini sudah beralih dari busi nikel ke busi iridium untuk kendaraannya agar bisa diterima domestik maupun ekspor," ujar Diko, saat dihubungi Kompas.com, Senin (13/12/2021). Diko menambahkan, saat ini hanya Suzuki saja yang belum beralih ke busi iridium. Sedangkan Toyota dan Daihatsu sudah mulai dari generasi mesin berkode NR pada 2015 lalu. "Jadi, semua konfigurasi mesin sudah diatur menyesuaikan aturan itu semua. Jadinya, segala hal yang berkaitan dengan ruang bakar mengikuti," kata Diko. Menurut Diko, penggunaan busi iridium juga membantu mesin untuk menghasilkan emisi yang lebih baik, karena pembakarannya lebih sempurna. "Kalau secara durability, busi dengan logam mulia lebih tahan dibanding busi standar nikel," ujar Diko. Didi Ahadi, Dealer Technical Support Dept Head PT Toyota Astra Motor (TAM), mengatakan, banyak faktor dari desain mesin tersebut untuk memutuskan menggunakan busi iridium pada produknya. "Salah satunya untuk mengejar emisi dan efisiensi," kata Didi.    Sumber : https://otomotif.kompas.com/read/2021/12/14/160100615/alasan-banyak-mobil-sekarang-pakai-busi-iridium

main Slider

Busi Asli All New Avanza Nyaris Rp 2 Juta Pakai Aftermarket Ini Cuma Rp 700 Ribuan

Otomotifnet.com  - Toyota All New Avanza memakai busi baru jenis iridium. Data dari bengkel resmi Astrido Toyota Pondok Indah, Jakarta Selatan, busi All New Avanza kini berkode part 90919-01275. Sementara harganya Rp 445 ribu per buahnya, artinya jika ganti satu set (4 buah) nyaris Rp 2 juta. "Jadi sekali penggantian 4 buah busi totalnya berarti Rp 1,78 juta, kalau Avanza sebelumnya Rp 100 ribu," ujar Son Ashari, Service Manager bengkel resmi Astrido Toyota Pondok Indah. Tapi tenang saja, ada alternatif lebih murah menggunakan busi iridium aftermarket. "Mesin Toyota Avanza baru itu masih menggunakan busi yang sama seperti sebelumnya dengan bahan elektroda iridium," buka Diko Oktaviano, Technical Support Product Knowledge PT NGK Busi Indonesia, (10/12). "NGK mengeluarkan sejumlah varian busi yang bisa digunakan untuk Toyota Avanza baru, yaitu busi dengan bahan platinum dan iridium," lanjut Diko. Untuk busi Toyota Avanza baru ini NGK menawarkan busi jenis platinum dengan kode LKAR6AGP sedang tipe iridium punya kode ILKAR6B11.   Dok. NGK Busi Indonesia NGK Laser Iridium dengan part number ILKAR6B11 Menurut Diko, kedua busi ini bisa langsung digunakan di Toyota Avanza baru tanpa ada ubahan atau penyesuaian pada mesin. "Busi ini bisa langsung dipasang kok, heat range juga sama dan busi ini memang diciptakan NGK untuk mesin keluarga NR punya Toyota," jelas pria ramah ini. Selain itu, kalau dari sisi harga kedua busi NGK ini lebih murah dibanding harga busi yang dijual bengkel resmi Toyota. "NGK G-Power LKAR6AGP dibanderol Rp 45 ribuan per buahnya sedang NGK Iridium ILKAR6B-11 harganya Rp 180 ribuan per buahnya," ungkapnya lagi. Jadi kalau ganti semua busi Toyota Avanza baru dengan NGK LKAR6AGP hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 180 ribuan. Sementara kalau Toyota Avanza baru ganti busi pakai NGK Iridium ILKAR6B11 total biayanya sekitar Rp 720 ribuan. Artinya lebih murah Rp 1,6 juta kalau pakai NGK G-Power LKAR6AGP dan Rp 1,06 juta jika pakai NGK Iridium ILKAR6B-11. Istimewa Busi Iridium Orisinil kode part 90919-01275 (A). Busi Denso PNO 9004A-91068 iridium (B).   "Soal durabilitas, memang NGK G-power memang hanya bisa dapat 75% dari orisinalnya, tapi soal harga jauh lebih ekonomis," bebernya. "Sementara untuk NGK iridium bisa kok sama dengan bawaan aslinya yang mencapai 100.000 kilometer," tutup Diko.    Sumber : https://otomotifnet.gridoto.com/read/233043447/busi-asli-all-new-avanza-nyaris-rp-2-juta-pakai-aftermarket-ini-cuma-rp-700-ribuan?page=all

main Slider

All New Avanza Pakai Busi Iridium Lebih Mahal

JAKARTA, KOMPAS.com - Toyota Avanza sudah mengandalkan busi tipe iridium. Namun demikian, masih banyak yang menggantinya dengan busi nikel dengan alasan harga yang lebih terjangkau. Sekarang ini, MPV seperti Avanza, Veloz, atau Daihatsu Xenia sudah menggunakan busi tipe iridium. Tak sedikit pemilik mobil tersebut yang mengeluh saat harus servis dan mengganti businya. Sebab, untuk penggantian busi satu set yang terdiri dari empat busi, biaya yang dikeluarkan dapat mencapai Rp 400.000. Didi Ahadi, Dealer Technical Support Dept Head PT Toyota Astra Motor (TAM), mengatakan, harga busi Avanza adalah Rp 90.000. Berarti, jika satu set harganya Rp 360.000. "Iya (lebih mahal dari busi nikel), karena iridium," ujar Didi, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Akhirnya, banyak yang beralih menggunakan busi biasa yang menggunakan material nikel. Sebab, harga yang ditawarkan sangat terjangkau, ada di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 50.000. Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia, mengatakan, secara durabilitas, busi dengan logam mulia lebih tahan lama dibanding busi nikel. "Untuk durability, NGK membaginya berdasarkan jenis produk. Iridium IX bisa sampai tiga kali tahan lama dibanding nikel," kata Diko. Diko menambahkan, busi nikel dapat bertahan hingga 20.000 km. Artinya, busi iridium usia pakainya bisa sampai 60.000 km. Jadi, dalam penggantian busi satu set, menghabiskan biaya hingga Rp 200.000. Sebab, harga busi nikel satuannya sekitar Rp 50.000 dan dikali empat silinder. Untuk mencapai 60.000 km, pemilik mobil harus melakukan penggantian busi sebanyak tiga kali. Berarti, total biayanya jika dikali tiga dapat mencapai Rp 600.000. Sementara jika menggunakan busi tipe iridium, untuk mencapai 60.000 km hanya mengeluarkan biaya Rp 360.000 hingga Rp 400.000. Meskipun mahal di awal, tapi jika dihitung dengan jarak tempuh yang sama, maka busi iridium lebih murah dibandingkan busi nikel.   Sumber : https://otomotif.kompas.com/read/2021/12/13/182100215/all-new-avanza-pakai-busi-iridium-lebih-mahal-

main Slider

Ketahui Dampak Pasang Busi Mobil Tidak Sesuai Spesifikasi Mesin

JAKARTA, KOMPAS.com - Busi memiliki fungsi untuk memantikkan api di dalam ruang pembakaran. Maka itu, komponen yang satu ini tidak bisa diperlakukan sembarangan. Bahkan, dalam pemasangannya ke mesin. Busi yang digunakan pada setiap mesin berbeda-beda, harus disesuaikan dengan kebutuhannya. Tidak sulit bagi pemilik kendaraan untuk mengetahuinya. Sebab, tiap pabrikan sudah mencantumkannya pada data spesifikasi. Jika menggunakan busi yang tidak sesuai dengan kebutuhan mesin, tentu harus terima konsekuensi atau dampak yang dihasilkan. Untuk itu, tiap mesin harus menggunakan busi yang sesuai. Service Head Auto2000 Bekasi, Sapta Agung Nugraha, mengatakan, ada efek yang akan dihasilkan, dari ketidakcocokan tersebut. “Apabila jenis busi tidak sesuai dengan karakteristik mesin, maka proses pembakaran menjadi tidak sempurna. Situasi itu akan membuat banyak campuran udara dan bahan bakar yang tidak terbakar,” ujar Sapta, kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu. Sapta menjelaskan, pembakaran yang tidak sempurna dapat mengakibatkan kerak di dalam ruang bakar menumpuk. Selain itu, emisi gas buang hidrokarbon (HC) menjadi lebih besar. "Dampak negatif selanjutnya yang bisa terjadi, yaitu performa mesin akan menurun dan memungkinkan timbulnya kerusakan pada sistem pembakaran," kata Sapta. Terakhir, Sapta menambahkan, dampak seketika yang nantinya bisa dirasakan adalah tarikan mesin berkurang. Kemudian, membuat mesin menjadi pincang maupun mengelitik (knocking). "Misalnya, Toyota Avanza dan Yaris sama-sama memiliki nilai kompresi antara 10 sampai 11, untuk itu keduanya menggunakan busi tipe dingin," ujar Sapta. Namun demikian, Sapta mengatakan, tetap ada perbedaan dari tipe elektrodanya. Untuk Yaris, menggunakan elektroda tipe platinum. Sedangkan Grand New Avanza, menggunakan tipe iridium.   Sumber : https://otomotif.kompas.com/read/2021/12/13/150100515/ketahui-dampak-pasang-busi-mobil-tidak-sesuai-spesifikasi-mesin

SOCIAL MEDIA///
.............

Jl. Raya Jakarta - Bogor Km 26,6 Jakarta 13740
INDONESIA
+62 21 8710974
marketing@ngkbusi.com

JOIN OUR SOCIAL MEDIA CONVERSATION///

Copyright © 2022 PT. NGK Busi Indonesia. All rights reserved.