main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
UPDATES///
main Slider

Ini Alasan Mengapa Platinum Dipilih Untuk Bahan Elektroda Busi

Sudah umum mendengar  elektroda   busi  dengan bahan  nikel  atau  iridium . Namun, di antara kedua bahan tersebut ternyata terdapat bahan  platinum . Bahan logam mulia  platinum  ini digunakan untuk bahan  elektroda busi  yang lebih bagus dibanding  nikel  namun masih di bawah  iridium . Mungkin banyak yang bertanya mengapa dipilih bahan  platinum untuk  elektroda   busi ? Lalu efek positif apa yang didapat kalau  busi  mobil menggunakan bahan  platinum ? Mengenai hal tersebut, Diko Oktaviano, Technical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia menjelaskan secara terperinci mengenai bahan platinum. "Bahan platinum dipilih seperti pada busi tipe NGK G-power dikarenakan bahan platinum memiliki titik lebur yang tinggi. Jadi busi lebih tahan terhadap temperatur yang tinggi," ucap Diko Oktaviano. Di tabel periodik bahan logam, platinum atau platina dengan kode (Pt) memiliki titik lebur 1.767 derajat celcius. Lebih tinggi dibanding busi dengan bahan nikel yang hanya 1.454 derajat celcius. Penggunaan elektroda platinum di bagian elektroda tengah juga meminimalkan efek quenching dimana inti api diharapkan tidak cepat padam. Dan ini didapat pada bahan platinum. Koefisien pemuaian panas dari bahan ini juga sangat baik sehingga dipilih untuk elektroda tengah busi. Bahan  platinum  pun lebih tahan erosi atau keausan yang lebih baik dibanding bahan  nikel . Selain itu juga tingkat  oksidasi   platinum  jauh di atas bahan  nikel . Penggunaan  busi   platinum  pun bisa lebih lama. "Maka dari itu ujung tip  elektroda   busi  berbahan  platinum  bisa dibuat runcing tanpa takut terjadi patah," tambah Diko. Dengan ujung yang meruncing, maka loncatan bunga api akan semakin terfokus dan yang didapat pastinya efisiensi dari hasil pembakaran dan konsumsi bahan bakar mobil bisa lebih ditekan. Secara harga pun bahan  platinum  dibawah  busi  tipe  iridium .   Sumber :  https://www.gridoto.com/read/221827773/ini-alasan-mengapa-platinum-dipilih-untuk-bahan-elektroda-busi?page=all#!%2F

main Slider

Oli Pada Ulir Busi Bukan Pertanda Rusak, Melainkan Komponen Ini Yang Rusak

Anggapan bahwa  busi  menjadi parameter kesehatan sebuah mesin itu fakta sob. Ulir  busi  yang terdapat  oli  saat dibuka pun mengindikasikan mesin sedang mengalami kerusakan. Kasus ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Namun tenang aja sob, adanya  oli  di ulir  busi  bukan berarti  busi  itu rusak. Ini diakibatkan oleh kerusakan mesin yang menyebabkan  oli  masuk ke ruang bakar. "Ulir busi yang terdapat sedikit oli dan agak lengket saat dipegang ini bukan karena businya yang rusak, tapi karena faktor eksternal seperti seal klep yang mulai rusak," ucap Diko Oktaviano yang menjabat sebagai Technical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia. Seal klep pada mesin mobil berfungsi sebagai perapat antara klep dengan bushing klep. Seal klep yang biasanya terbuat dari bahan karet ini karena panas mesin dan gesekan akan membuatnya menjadi getas dan tidak mampu menahan oli. Oli mesin pun akan masuk ke ruang bakar. Oli yang ikut bersama bahan bakar dan udara di ruang bakar ini lama kelamaan akan masuk ke sela-sela ulir busi. Proses kebocoran yang terus menerus akan membuat  oli menempel di ulir  busi . "Jadi saat  busi  dibuka maka ulir  busi  seperti terdapat  oli . Itu  oli mesin yang bocor dan masuk ke ruang bakar," tambahnya. Efek lain pada  busi  saat  oli  bocor masuk ke ruang bakar akan membuat  kerak karbon  menumpuk. Residu  oli  yang juga ikut di proses pembakaran akan menjadikan  kerak karbon  dan mengganggu kinerja  busi . Bila sudah terdapat tanda-tanda ini, lebih baik lakukan pengecekan lebih lanjut soal mesin agar mesin kembali sehat. Sudah tahu kan penyebabnya sekarang.   Sumber :  https://otoseken.gridoto.com/read/341830675/oli-pada-ulir-busi-bukan-pertanda-rusak-melainkan-komponen-ini-yang-rusak?page=all#!%2F  

main Slider

Ini Alasan Tipe Busi di Indonesia dengan di Luar Negeri Berbeda

Ternyata  tipe   busi  yang ada di  Indonesia  berbeda dengan mobil yang berada di  luar negeri  lho. Walau memiliki bentuk  busi  yang pasti sama, tapi  tipe   busi terutama kode  busi  berbeda antara di  Indonesia  dan di  luar negeri . Perbedaaan  tipe   busi  ini ternyata dipengaruhi banyak faktor. Setidaknya ada 3 faktor penting yang membuat  tipe   busi  di  Indonesia  dan di  luar negeri  berbeda. Terlebih pada negara seperti Eropa dan negara yang jauh dari  Indonesia . Saat Gridoto.com berbincang dengan Diko Oktaviano selaku Technical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia, dirinya menyebut ada 3 faktor penting yang membuat berbeda. "Ketiga faktor tersebebut adalah tipe mesin, suhu atau iklim masing-masing negara, dan bahan bakar," ucap Diko. Bukan rahasia umum lagi bahwa pabrikan membuat mesin pasti disesuaikan dengan negara yang akan menggunakannya. Terkadang satu tipe mesin memiliki perbedaan seperti material, perbandingan kompresi dan lainnya. Ini yang menyebabkan kebutuhan tipe busi berbeda. Sedangkan untuk suhu atau iklim di negara masing-masing juga membuat tipe busi yang digunakan berbeda. Sebagai contoh busi NGK di Indonesia umumnya tingkat panas busi berada di angka 6-9. Di negara lain dengan suhu udara yang berbeda, tingkat panas busi bisa berada di angka 5 bahkan bisa 10. Untuk faktor ketiga adalah  bahan bakar . Tidak bisa dipungkiri kualitas  bahan bakar  setiap negara berbeda-beda. Ini yang juga menjadi riset pabrikan  busi  agar bisa menyesuaikan dengan kondisi  bahan bakar  di masing-masing negara. Hal ini untuk mendapatkan performa  busi  dan ketahanan atau durability  busi  yang baik. Busi  pun bisa menyesuaikan dengan kondisi  bahan bakar . Lalu persentase faktor mana yang paling tinggi? "Persentase perbedaan  busi  di setiap negara yang paling tinggi dipengaruhi oleh  tipe  mesin mobil. Karena dengan sedikit perubahan di bagian mesin maka spesifikasi  busi  yang dibutuhkan juga akan berbeda," tutup Diko.   Sumber :  https://www.gridoto.com/read/221827459/ini-alasan-tipe-busi-di-indonesia-dengan-di-luar-negeri-berbeda?page=all#!%2F

main Slider

Ini Alasan Kenapa Ternyata Busi Bisa Bikin Mobil Lulus Uji Emisi

Banyak faktor yang membuat mobil bisa  lulus   uji emisi . Salah satunya dengan  pembakaran  di ruang bakar yang sempurna dan  busi  merupakan komponen pada mobil yang bisa membuat campuran bahan bakar dan udara terbakar sempurna. Busi  dalam kondisi yang baik akan menurunkan kadar  gas buang saat  uji emisi  dan bisa dipastikan mobil tidak melewati ambang batas yang sudah ditentukan di Indonesia. Mengapa komponen kecil seperti  busi  bisa menjadi penentu hasil  gas buang  pada kendaraan bermotor? Perihal tersebut diungkapkan langsung oleh Rendi Cristian Darmawan kepala mekanik Nawilis yang berada di Jl. Radio Dalam, Jakarta Selatan. Dirinya menyebutkan bahwa untuk mendapatkan hasil pembakaran yang sempurna busi menjadi salah satu faktor penentu. "Busi yang kurang baik atau bahkan tidak dirawat dan diganti secara berkala akan membuat pembakaran tidak terjadi sempurna. Itu penyebabkan beberapa parameter gas buang saat uji emisi menjadi tinggi seperti kadar Hidrokarbon (HC) dan Karbon Monoksida (CO)," ucap Rendi. Dengan busi yang baik dan terawat maka kadar gas buang tersebut bisa ditekan. Karena dengan proses pembakaran yang sempurna maka kerak karbon diruang bakar juga tidak akan menumpuk. Tidak hanya dari sisi penguji emisi, namun hal tersebut juga dibenarkan oleh Diko Oktaviano selaku Tecnical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia. Menurutnya sangat betul busi menjadi salah satu faktor penentu terjadinya pembakaran yang sempurna. "Selain merawat busi, bahan busi itu juga menjadi penting. Sekarang ini busi tipe Iridium bisaa membuat pembakaran menjadi lebih sempurna dibanding bahan lainnya seperti nikel," ucap Diko. Bahan logam mulia iridium menghasilkan percikan api yang lebih baik dan terfokus. Ini yang menjadi mengapa bahan  busi  seperti iridium sudah lumrah digunakan pada mobil-mobil sekarang. Selain itu, bahan  busi  ini bisa bertahan jauh lebih lama dibanding  busi  nikel. Dengan umur  busi  lebih lama maka proses  pembakaran  pun akan terus baik. Bisa  lulus   uji emisi  pastinya.   Sumber :  https://www.gridoto.com/read/221826495/ini-alasan-kenapa-ternyata-busi-bisa-bikin-mobil-lulus-uji-emisi?page=all#!%2F

main Slider

Trik Menjaga Pembakaran di Mesin Tetap Sempurna

Jakarta,  Menjaga kesempurnaan pembakaran di ruang bakar mesin konvensional, akan sangat terpengaruh oleh beberapa hal. Di antaranya adalah kesesuaian oktan bahan bakar yang digunakan, kesesuaian campuran udara di ruang bakar, kualitas pengapian dari busi dan ruang bakar yang sehat.   Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Octoviano saat berbicara langsung kepada Medcom.id, menjelaskan bahwa hal-hal tersebut (di atas), adalah syarat mutlak untuk membuat kinerja mesin jadi optimal. Apalagi kalau berbicara soal mesin bakar, otomatis system pembakaran itu juga yang punya pengaruh besar untuk menjalankan kendaraaan.   "Optimalisasi kinerja mesin, tak terlepas dari tiga hal tersebut. Yaitu pencampuran bahan bakar dengan udara yang ideal, lalu timing pengapian yang secara terus-menerus terjadi di ruang bakar lalu kondisi ruang bakar itu sendiri yang menghasilkan kompresi bagus. Semua ini menjadi faktor penentu," klaim Diko.  Lebih jauh Diko menjelaskan tentang hal ini bahwa jika Anda melakukan modifikasi terhadap satu bagian, maka sebaiknya dilakukan juga penggantian komponen terkait. Misalnya dengan mengganti setup campuan BBM dan udara di ruang bakar. Kondisi ini membuat komponen pemantik api yaitu busi, akan membakar lebih cepat. Alhasil, ini membuat permintaan timing pengapian yang lebih cepat atau lebih besar, membuat busi yang tak sesuai dengan spesifikasinya bakal lebih rentan mengalami carbon deposit di elektrodanya.   "Lebih parah lagi, bisa membuat busi kelewat panas dan membuat busi lebih cepat mencapai akhir usia pakainya. Kalau sudah begini, tentu meewajibkan penggunanya untuk memasang busi yang sesuai permintaan pengapian dalam ruang bakar. Hal inilah yang membuat Saya selalu menyarankan agar jika melakukan modifikasi untuk kinerja ruang bakar, wajib melakukannya sekaligus untuk komponen yang saling terkait."   Lebih parah lagi, efeknya bisa membuat komponen lain yang terhubung dengan sistem pengapian di mesin, cepat kalah. Misalnya baterai atau aki, lalu kiprok, alternator dan beberapa lagi lainnya. Jadi jika Anda berniat melakukan modifikasi di bagian ini, sekaligus hitung beberapa komponen terkait agar tak rugi dua kali.   Sumber :  https://www.medcom.id/otomotif/tips-otomotif/8Ky5zl6K-trik-menjaga-pembakaran-di-mesin-tetap-sempurna

main Slider

Alasan Sensor Oksigen Upstream Lebih Cepat Rusak Dibanding Downstream

Pada mobil injeksi modern umumnya menggunakan dua buah  sensor oksigen  atau sensor  O2 . Sensor oksigen   upstream  ditempatkan setelah proses pembakaran Sedangkan  sensor oksigen   downstream  ditaruh setelah catalytic converter. Bisa dibilang,  sensor oksigen   upstream  lebih cepat rusak dibanding dengan  sensor oksigen   downstream . Lho, mengapa bisa dibilang demikian? Hal ini langsung dijawab oleh Diko Oktaviano selaku Technical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia. Dirinya menyebutkan bahwa kemungkinan terjadi kerusakan sensor oksigen upstream lebih cepat dibanding sensor oksigen downstream. "Sensor oksigen upstream ditempatkan di pipa exhaust langsung setelah terjadinya proses pembakaran. Sensor oksigen upstream ini adalah pintu pertama hasil gas bakar yang dibaca," ucap Diko. Jadi sisa-sisa gas buang langsung akan dibaca oleh sensor oksigen upstream. Terlebih bila hasil pembakaran kurang sempurna atau terlalu pekat. Ini akan memperparah sisa-sisa gas buang menempel di sensor oksigen upstream. "Untuk sensor  downstream  jarang sekali rusak, hal ini karena  gas buang  sudah disaring catalytic converter. Bisa dibilang  gas buang yang dibaca  sensor oksigen   downstream  lebih bersih," tambahnya. Kedua sensor ini akan memberikan input ke ECU (Electronic Control Unit) hasil pembakaran dan ECU akan melakukan koreksi bila hasil bacaan sensor melebihi batas yang sudah ditentukan. Dengan input tersebut ECU akan mengontrol debit semprotan bahan bakar dan lainnya. Bacaan  sensor oksigen   upstream  dan  downstream  harus berbeda. "Bila sama ada kemungkinan  katalik konverter  tidak mampu menyaring  gas buang  dengan baik atau bisa saja sensor yang sudah rusak," tutup Diko.   Sumber :  https://www.gridoto.com/read/221820022/alasan-sensor-oksigen-upstream-lebih-cepat-rusak-dibanding-downstream?page=all#!%2F

main Slider

Mengapa Mobil Sekarang Menggunakan Busi Tipe Projected, Ini Alasannya

Dilihat secara fisik,  busi  terbagi menjadi dua tipe yakni  busi   projected  dan  busi  non  projected . Busi  tipe  projected  ada bagian yang berlebih umumnya pada bagian insulator  busi  yang membuat  elektroda   busi  menjadi lebih menonjol keluar. Berbeda dengan  busi  non  projected  yang bentuk  busi  biasanya rata dengan drat  busi . Pada umumnya, mobil-mobil sekarang menggunakan tipe  busi projected . Ternyata penggunaan  busi  tipe  projected  ini ada alasannya lho. "Mayoritas mesin mobil-mobil sekarang yang sudah canggih menggunakan busi tipe projected. Hal ini ada alasannya yakni pembakaran busi projected lebih merata," sebut Diko Oktaviano, Technical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia. Busi projected pun akan membuat firing point atau titik mulanya api dimulai. Hasil percikan api busi yang mendekati piston akan menambah efisiensi pembakaran dan lebih merata. Pembakaran yang merata pada seluruh permukaan piston akan menghasilkan daya ledak yang dan tekanan yang lebih tinggi. Hal ini bagus untuk mendapatkan tenaga mesin yang lebih baik dan hasil pembakaran yang lebih sempurna. Setiap pabrikan mobil yang membuat mesin pastinya sudah menentukan letak dimana titik api dimulai. Oleh karena itu pada mobil sekarang dibutuhkan  busi  dengan tipe  projected  untuk menghasilkan mesin yang lebih  efisien . Karena  busi   projected  terlihat seperti menjorok keluar, nggak perlu takut akan mentok piston sob. Lagi-lagi pabrikan sudah mendesain sedemikian rupa bentuk piston agar tidak menabrak kepala  busi .   Sumber :  https://www.gridoto.com/read/221820025/mengapa-mobil-sekarang-menggunakan-busi-tipe-projected-ini-alasannya?page=all#!%2F

main Slider

Alasan Gunakan Bahan Tembaga Pada Inti Elektroda di Semua Busi

Pada  busi  terkadang hanya mengenal tipe  busi  nikel ,  iridium , platinum dan sebagainya. Bahan-bahan logam mulia tersebut merupakan yang umum untuk ujung  busi  atau elektroda tengah yang memercikan api  busi . Namun,  inti elektroda  atau electrode core pada  busi  hampir semua menggunakan bahan  tembaga . Memang bagian ini berada di tengah dan tertutup insulator pada badan  busi . Jadi memang kurang terlihat. Pemilihan bahan  tembaga  pada  inti elektroda  ini pun memiliki alasan lho, alias nggak sembarangan memilih bahan ini untuk digunakan. Saat GridOto.com berbincang santai dengan Diko Oktaviano selaku Technical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia, dirinya menyebutkan bahwa tembaga merupakan bahan terbaik untuk mengalirkan tegangan listrik dengan cepat. "Tembaga mempunyai sifat bahan yang mampu mengalirkan listrik dengan cepat. Untuk jelasnya bisa dilihat di tabel periodik bahan logam," sebut Diko Oktaviano. Tembaga memiliki electric conductivity atau konduktivitas elektrik sangat tinggi. Konduktivitas elektrik adalah ukuran dari kemampuan bahan mengantarkan arus listrik. Tembaga memiliki ukuran 59 Ms/m. Berbeda dengan iridium yang hanya 21 Ms/m. Bahkan sangat jauh dengan bahan nikel yang mendapatkan angka 14 Ms/m. Semakin tinggi angka ini akan semakin bagus dan semakin cepat  arus listrik  dihantarkan. "Tetapi  tembaga  bukan yang terbaik, yang paling bagus adalah  perak . Bahan  perak  memiliki ukuran mencapai 62 Ms/m," tambahnya. Namun, bahan  perak  murni terkendala harga yang cukup mahal. Bahan  tembaga  murni tidak pernah digunakan sebagai elektroda tengah karena sifat bahannya yang mudah meleleh bila terkena suhu yang sangat panas. Tembaga  akan meleleh ada suhu 1.083 derajat celcius. Sedangkan untuk  nikel  lebih unggul mencapai 1.454 derajat celcius. Bahan  Iridium  merupakan bahan yang memiliki titik lebur yang paling tinggi yakni 2.465 derajat celcius.   Sumber :  https://www.gridoto.com/read/221818852/alasan-gunakan-bahan-tembaga-pada-inti-elektroda-di-semua-busi?page=all#!%2F

main Slider

Ini Dampak Jangka Panjang Bila Ulir Busi Tak Terpasang Pas di Silinder

Pernah memerhatikan  ulir pada busi sepeda motor  Anda? Ya, pada badan busi pasti memiliki ulir agar dapat terpasang di kepala silinder. Panjang ulir busi memiliki ukuran yang beragam, hal ini  menyesuaikan dari konstruksi mesin  itu sendiri Lalu bagaimana bila panjang ulir busi yang terpasang tidak sesuai dengan mesin, entah itu terlalu pendek atau terlalu panjang? Dari pabrikan seperti NGK panjang ulir busi pasti sudah disesuaikan dengan masing-masing mesin. Bila terlalu pendek atau terlalu panjang pasti menimbulkan risiko tersendiri. "Kalau ulir busi terlalu pendek dari drat yang ada di kepala silinder akan akan membuat masalah karena  kerak karbon  akan menumpuk di bagian drat busi yang tidak tertutup. "Selain itu titik nyala api pun akan berubah yang berimbas ke tenaga mesin yang tidak maksimal," ucap Diko Oktaviano yang menjabat sebagai Technical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia. Bila  kerak karbon  menumpuk dan didamkan akan berakibat mengganggu api busi yang memercik. Tidak maksimalnya pembakaran selain dari titik nyala api yang tidak pas, kompresi mesin pun akan sedikit turun. Hal ini karena adanya sedikit ruang akibat ulir busi tidak pas dengan kepala silinder. Sebaliknya, kalau ulir busi terlalu panjang pun akan sangat lebih berbahaya. Kepala busi yang terlalu menonjol keluar dari kepala silinder kemungkinan akan membentur kepala piston. "Mungkin efek awalnya hanya seperti mesin brebet karena elektroda massa membentur kepala piston yang membuat gap busi menjadi lebih pendek," tambahnya. Namun, bila terus didiamkan bisa membuat kepala piston retak akibat benturan. Kalau sudah begini mesin bisa jebol hanya karena busi yang tidak sesuai. Maka dari itu, pemilihan ulir busi juga penting untuk diperhatikan agar sesuai dengan spesifikasi masing-masing mesin.   Sumber :  https://manado.tribunnews.com/2019/08/13/ini-dampak-jangka-panjang-bial-ulir-busi-tak-terpasang-pas-di-silinder?page=all

main Slider

Ternyata Begini Alasan Busi Tipe Iridium Cocok untuk Dipakai Harian

Pastinya sudah umum mendengar  busi  tipe  iridium di pasaran. Busi  tipe  iridium  merupakan  elektroda  inti  busi  yang menggunakan bahan  logam mulia  yang disebut  iridium . Lalu mengapa bisa dibilang  busi  tipe  iridium  cocok untuk digunakan harian? Sebagaimana kita ketahui,  iridium  merupakan bahan logam yang ada di  tabel periodik  pada nomor 77. Iridium  memiliki titik lebur atau melting point mencapai 2.450 derajat celcius. Sedangkan untuk bahan elektroda busi biasa seperti bahan nikel hanya mampu bertahan 1.454 derajat celcius. "Jadi untuk mesin dengan panas yang tinggi, bahan iridium pada elektroda tengah sangat baik. Dengan bahan elektroda yang tidak mudah meleleh membuat kinerja busi tidak terganggu seperti bahan lainnya," ucap Diko Oktaviano selaku Technical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia. Selain dari titik lebur yang tinggi, bahan iridium pada elektoda tengah busi memiliki thermal conductivity atau konduktivitas thermal yang lebih tinggi. Konduktivitas thermal merupakan ukuran kemampuan suatu bahan untuk mengalirkan panas. Semakin tinggi angka konduktivitas thermal maka akan semakin bagus bahan logam mulia tersebut. Pada bahan  iridium , konduktivitas thermal mencapai 150 W/mK. Sedangkan bahan nikel hanya 91 W/mK. "Untuk melihat data ini bisa dicari pada  tabel periodik  yang ada di internet. Jadi bahan  iridium  jauh lebih baik," tambahnya. Walaupun dibentuk dengan runcing dengan diameter 0,6 mm seeperti  busi  NGK, tapi bahan  iridium  lebih kuat. "Untuk tingkat kekerasan bahan  iridium  1.670 MPa dibanding dengan bahan nikel sekitar 700 MPa. Nah itu mengapa bahan  busi biasa umumnya diameter  elektroda  tengahnya sekitar 2,5 mm," bebernya. Dengan sifat bahan  logam mulia  yang lebih bagus ini maka bila dipakai harian membuat  busi  bisa bertahan lama. Klaim dari NGK  Busi  Indonesia,  busi  tipe laser  iridium  keluaran terbaru bisa digunakan sampai 100.000 kilometer lho.   Sumber :  https://www.gridoto.com/read/221817149/ternyata-begini-alasan-busi-tipe-iridium-cocok-untuk-dipakai-harian?page=all#!%2F

main Slider

Ternyata Efek Panjang Ulir Busi Enggak Sesuai Bisa Bikin Mesin Jebol

Pada badan  busi  pasti memiliki  ulir  agar dapat terpasang di  kepala silinder . Panjang   ulir   busi  memiliki ukuran yang beraga, hal ini menyesuaikan dari konstruksi mesin itu sendiri. Lalu bagaimana bila  panjang   ulir   busi  yang terpasang tidak sesuai dengan mesin, entah itu terlalu pendek atau terlalu  panjang ? Dari pabrikan seperti NGK  panjang   ulir   busi  pasti sudah disesuaikan dengan masing-masing mesin. Bila terlalu pendek atau terlalu  panjang  pasti menimbulkan risiko tersendiri. "Kalau ulir busi terlalu pendek dari drat yang ada di kepala silinder akan akan membuat masalah karena kerak karbon akan menumpuk di bagian drat busi yang tidak tertutup. Selain itu titik nyala api pun akan berubah yang berimbas ke tenaga mesin yang tidak maksimal," ucap Diko Oktaviano yang menjabat sebagai Technical Support Product Specialist NGK Busi Indonesia. Bila kerak karbon menumpuk dan didamkan akan berakibat mengganggu api busi yang memercik. Tidak maksimalnya pembakaran selain dari titik nyala api yang tidak pas, kompresi mesin pun akan sedikit turun. Hal ini karena adanya sedikit ruang akibat ulir busi tidak pas dengan kepala silinder. Sebaliknya, kalau ulir busi terlalu panjang pun akan sangat lebih berbahaya. Kepala busi yang terlalu menonjol keluar dari kepala silinder kemungkinan akan membentur kepala piston. "Mungkin efek awalnya hanya seperti mesin brebet karena elektroda massa membentur kepala piston yang membuat gap  busi  menjadi lebih pendek," tambahnya. Namun, bila terus didiamkan bisa membuat kepala piston retak akibat benturan. Kalau sudah begini mesin bisa  jebol  hanya karena  busi  yang tidak sesuai. Maka dari itu, pemilihan  ulir   busi  juga penting untuk diperhatikan agar sesuai dengan spesifikasi masing-masing mesin.   Sumber :  https://www.gridoto.com/read/221796555/ternyata-efek-panjang-ulir-busi-enggak-sesuai-bisa-bikin-mesin-jebol?page=all#!%2F

Jl. Raya Jakarta - Bogor Km 26,6 Jakarta 13740
INDONESIA
+62 21 8710974
marketing@ngkbusi.com

JOIN OUR SOCIAL MEDIA CONVERSATION///

Copyright © 2019 PT. NGK Busi Indonesia. All rights reserved.