×

Select Your Type

×
Map Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer Pointer

Contact Us


Jika anda ingin informasi lebih lanjut harap isi formulir.

Seluruh isian dalam formulir mohon diisi dengan benar dan akurat.

Alamat yang dimasukkan harus alamat rumah/kantor yang ditempati dan nomor telepon/ponsel yang bisa dihubungi.

Standard VS Iridium VS Racing


Posted on August 30, 2017 at 11:06 AM

Tags: NGK Racing Tips Tech News



NGK bersama salah satu media melakukan pengujian terhadap performa busi racing dan membandingkan dengan tipe iridium dan standard.

Bagaimana hasil uji cobanya? Berikut akan dipaparkan hasil uji coba tersebut yang telah dimuat di tabloid OTOPLUS edisi 41 XIV tanggal 3 - 9 April 2017 lalu.
Mesin untuk racing sudah pasti menghasilkan power tinggi disertai kompresi dan rpm tinggi pula. Oleh karena itu, busi yang digunakan harus mampu bertahan pada kondisi ruang bakar dengan tekanan dan temperatur tinggi.
 
Apa yang membedakan busi khusus racing ini dibandingkan busi performa tinggi yang banyak beredar di pasaran? Busi yang beredar luas, baik berbahan platinum maupun iridium, bentuk kepala businya tipe projected insulator, yaitu kepala busi melengkung di atas elektroda.
 
Untuk media pengujian, NGK menggunakan 3 tipe busi yang seragam tingkat panasnya dan 1 busi tipe racing yang lebih tinggi tingkat panasnya, sedangkan untuk motor kita meminjam Honda All New Sonic 150R spek MP5 milik Rosvita Honda Jatim Racing Team. Pengujian menggunakan dynotest Sport Device milik RAT Motorsport.
 
Berikut ini adalah tabel hasil pengujiannya.
 
Paling terlihat signifikan, grafik AFR langsung terkoreksi menjadi lebih baik. Pada 7.000-8.250 Rpm di rentang 11-an:1. Lalu pada range 9.750-10.500 pas secara stoichiometry di angka 14,7:1. Selaras dengan berubahnya grafik AFR. Grafik tenaga dan torsi jadi lebih baik, perubahan paling banyak di bawah 8.000 Rpm.
 
Pada hasil tipe Iridium, ada peningkatan yang cukup signifikan. Tenaga terdongkrak menjadi 22,084 HP/12.487 Rpm dan torsi menjadi 13,49 Nm/ 7.928 Rpm. Naik 0,641 HP dan 0,22 Nm.
Pada busi tipe R0373A-9 ini, tenaga puncak teraih sebesar 22,170 HP/12.391 Rpm dan torsi 13,74 Nm/ 9.123 Rpm. Naik 0,727 HP dan 0,47 Nm.
Tanpa mensetting ulang ECU dengan busi tipe R0373A-9 membuat grafik AFR lebih merata. Istimewanya, tanpa mensetting ulang ECU dengan busi tipe R0373A-9 membuat grafik AFR lebih merata. Di rentang 7.000-10.000 rpm terjaga di angka 13-an:1
Busi tipe R0045Q-10 sebenarnya diperuntukan untuk moge. Ketika dilakukan dyno test, hasilnya hanya 21,944 HP/12.265 RPm dan torsi 13,34 Nm/9.250 Rpm. Masih kalah dibandingkan busi iridium, ya sedikit di bawahnya. Disinyalir karena kode heat range 10 menunjukan busi ini tipe dingin. Terlihat dari AFR cenderung basah dan busi ini peruntukannya memang untuk mesin berkompresi tinggi. Sonic 150 yang jadi media tes hanya memiliki kompresi sebesar 11,3:1. Meski demikian, bentuk grafik AFR merata persis seperti tipe R0373A-9. Dan lagi, istimewanya busi ini paling stabil performanya.
 
  
 
 
 

I like the post? Like this!