ACTIVITY///

Komponen kendaraan yang satu ini memang ditakdirkan untuk rusak. Pengguna keendaraan  harus  memahami kapan  busi harus diganti.

Libur akhir tahun telah tiba, banyak agenda yang telah disiapkan untuk mengisi liburan kali ini.  Bagi pecinta otomotif, libur panjang seperti saat ini merupakan waktu yang pas untuk berkumpul bersama dengan teman-teman sesama pecinta otomotif. Touring bisa jadi pilihan kegiatan yang mengasyikkan untuk mengisi liburan akhir tahun. Sebelum touring tentunya kendaraan yang akan digunakan  harus di cek terlebih dahulu, agar tidak menimbulkan masalah di perjalanan.

Ban, pelumas, rem dan accu biasa  jadi komponen utama kendaraan yang perlu diperhatikan dan diganti menjelang perjalanan jauh. Sebenarnya masih ada satu lagi komponen penting yang harus diperhatikan saat persiapan touring, yakni busi.  Menurut Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Oktaviano,   kadang kala pengendara atau pemilik kendaraan sering mengabaikan  busi. Bukan  saja karena bentuknya yang mungil jadi sering kurang diperhatikan, namun di kalangan  teknisi kendaraan bermotor ada semacam anggapan bahwa busi bisa diutak-atik hingga  bisa mendongkrak kinerjanya. “Busi menjadi komponen kendaraan bermotor yang secara berkala harus diganti,”jelas Diko.

Jadi bukan hanya karena kendaraan kesayangan ingin digunakan untuk touring saja, baru di cek kondisi businya. Bagi pengguna kendaraan  juga jangan anggap sepele fungsi busi.  Diko menambahkan  akan banyak masalah yang akan dihadapi jika busi tidak diganti secara berkala. Fungsi busi memang untuk menghidupkan mesin,  namun jika tidak diganti pada waktunya malah bisa merusak mesin kendaraan dan juga membahayakan pengguna kendaraan tersebut.  

Ada beberapa resiko yang dihadapi saat busi yang sudah waktunya diganti tapi masih terus digunakan.  Reskiko tersebut mulai dari engine idle tidak stabil, akselarasi menurun, mesin sulit  hidup saat start engine hingga  boros bahan bakar. “Akibat busi yang tidak diganti secara berkala bisa membuat mesin mati mendadak di tengah jalan. Ini jelas sangat membahayakan pengguna kendaran,” ujar Diko Oktaviano saat acara journalist coaching clinic yang diselenggarakan PT NGK Busi Indonesia beberapa waktu yang lalu.  

Jangan sampai hanya karena busi yang harganya tergolong terjangkau, karena tidak diganti, membuat kerugian yang cukup besar bagi pemilik kendaraan. Membiarkan kerusakan pada busi akan mengakibatkan efek berantai pada sistem pengapian. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada busi maupun pada komponen sebelum busi. Komponen itu seperti spark plug wires, cap & rotor,  coil, dan juga accu.

Pertanyaan umum yang sering dilontarkan oleh pengguna kendaraan adalah kapan sebaiknya busi diganti ?  Nah, untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengganti busi, menurut Diko, secara umum ada dua indikatornya.  Pertama kondisi busi khususnya pada bagian elektroda, rusak atau tidak. Kedua  sudah berapa lama (jarak ) pemakaian kendaraan. Busi berbeda dengan pelumas, meskipun kendaraan tidak digunakan dalam jangka waktu lama, pelumas harus diganti. Sementara busi, meskipun kendaraan diparkir dalam waktu panjang, namun kondisinya masih baik dan kilometer kendaraan belum mencapai sekitar 6.000 km untuk sepeda motor dan sekitar 20.000 km untuk mobil, tidak perlu diganti.

Dijelaskan oleh Diko batas angka 6000 Km untuk sepeda motor dan 20.000 Km untuk mobil mengacu pada rekomendasi yang dikeluarkan oleh NGK untuk penggunaan busi standar. Rekomendasi ini berdaarkan pengujian yang dilakukan dengan mengunakan busi standar pada berbagai mesin kendaraan.  

Dalam uji tersebut tingkat kerusakan (keausan) pada busi rata-rata kendaraan akan dimulai pada 6,000km untuk motor dan 20,000km pada mobil.  Saat itu, boleh jadi busi masih bisa digunakan, namun pengguna kendaraan sudah harus mengetahui bahwa kerusakan busi sudah dimulai.

Tentunya hasil akan berbeda pada setiap kendaraan bergantung pada merek dan jenis mesin yang digunakan. Untuk mengetahui dengan pasti kapan sebaiknya busi kendaraan diganti berdasarkan kilometer penggunaan ada baiknya melihat manual book yang dikeluarkan oleh pabrikan  masing-masing kendaraan.

Jangan Diamplas

Sebagai teknisi kendaraan yang berpengalaman Diko menyarankan agar busi diganti setelah dua kali pergantian oli. “Jadi rumusnya 2:1, dua kali ganti oli, satu kali ganti busi,”ujarnya. Diko menambahkan, perhitungan itu didasari dengan titik pertama ketika busi mengalami erosi atau pengurangan dimensi alias pelebaran jarak. Pelebaran jarak yang dimaksud adalah jarak antara elektroda pusat dan elektroda massa (ground).

Sebagaimana fungsinya,  busi akan memercikan api ketika terjadi proses pembakaran dalam mesin.  Akibat percikan api inilah kemudian memicu mesin bekerja.  Percikan api yang terjadi menimbukan kerak atau karbon. Semakin banyak karbon yang menumpuk di busi, ujung busi akan menghitam. Disinilah waktu untuk mengganti busi.  Menurut Diko harus disadari oleh pengguna kendaraan bahwa busi memiliki masa pakai yang terbatas. Komponen ini tidak bisa dipaksakan terus-menerus dalam top performance.   Setelah dipakai selama periode tertentu, performa busi akan menurun."Busi bukan untuk dipakai terus menerus, tapi memang ditakdirkan untuk rusak, “ kata Diko.

Sayangnya hingga kini pengguna kendaraan masih sering mengutak atik busi yang telah lama digunakan, agar bisa oke kembali. Cara yang paling sering dilakukan adalah mengamplas kepala busi. Sidik, Teknisi Dealer Yamaha Deta, Pondok Bambu, Jakarta Timur, mengatakan bahwa bagian yang harus diperhatikan dari busi adalah ujungnya, yakni bagian elektroda tengah dan elektroda massa. Setelah digunakan beberapa lama, di bagian ini tampak berkerak atau berwarna hitam. Kerak tersebut merupakan dampak dari proses pembakaran. "Bagian ini memang harus dibersihkan dari kerak dan kotor. Tapi, jangan menggunakan amplas atau sikat kawat, karena malah mengikis bagian elektroda busi, " kata Sidik.

Faktanya memang saat mengamplas busi, karena terlihat hitam (kotor), yang diamplas justru bagian elektrodanya.  Ini malah akan membuat celah antara elektorda pusat dan ground bertambah lebar.  Jarak yang lebar ini membutuhan percikan api yang lebih besar pula, akibatnya busi akan semakin rusak. Selain itu membutuhkan tenaga (daya) yang lebih besar pula untuk menghasilkan percikan api yang lebih besar.  Akibatnya penggunaan bahan bakar lebih boros dan accu dipaksa bekerja lebih keras lagi. Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan. Ya itu tadi, mesin tidak bisa hidup saat di nyalakan atau yang lebih fatal lagi mesin mati mendadak.

Oleh karena itu,  pengetahuan kapan busi harus diganti jadi hal yang berharga buat pengguna kendaraanNah, jika busi rutin diganti secara berkala, maka perjalanan touring bersama rekan dan sahabat pun jadi lebih nyaman, aman dan selamat.  Selamat berlibur.

 

Sumber : http://sindoweekly.com/automotive/daily/20-12-2018/touring-aman-karena-mengetahui-takdir-busi

Jl. Raya Jakarta - Bogor Km 26,6 Jakarta 13740
INDONESIA
+62 21 8710974
marketing@ngkbusi.com

JOIN OUR SOCIAL MEDIA CONVERSATION///

Copyright © 2019 PT. NGK Busi Indonesia. All rights reserved.